Sophisme
seni berdebat untuk menang dan bahaya retorika tanpa moralitas
Pernahkah kita melihat sebuah perdebatan di media sosial, dan menyadari ada sesuatu yang sangat ganjil? Seseorang yang secara fakta jelas-jelas salah, justru mendapat paling banyak tepuk tangan. Ia menggunakan kata-kata yang manis. Ia memutarbalikkan logika dengan sangat elegan. Di akhir perdebatan, kita tidak hanya merasa kesal, tapi juga mulai meragukan kewarasan kita sendiri. Mengapa orang yang salah bisa terlihat begitu benar? Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan, ini adalah sebuah trik psikologis tua yang sudah berumur ribuan tahun. Sebuah seni yang diciptakan murni untuk satu tujuan: menang. Bukan untuk mencari kebenaran. Menariknya, otak kita justru dirancang untuk sangat mudah jatuh cinta pada trik ini. Mari kita bedah bersama.
Kita harus mundur sejenak ke Athena kuno, sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi. Di masa itu, demokrasi sedang mekar-mekarnya. Kalau kita hidup di sana dan ingin sukses, kita harus pintar bicara di depan umum. Entah itu untuk membela diri di pengadilan atau memenangkan hati rakyat di alun-alun kota. Hukum pasar pun berlaku. Karena ada permintaan yang sangat tinggi, muncullah para "guru les" privat yang menawarkan kelas public speaking. Mereka disebut kaum Sofis, dari kata Yunani sophos yang berarti bijaksana. Tokoh-tokoh seperti Protagoras dan Gorgias mematok tarif selangit untuk mengajari anak-anak muda kaya satu keahlian mematikan. Keahlian itu adalah retorika. Mereka tidak peduli apakah argumen kliennya benar atau salah. Fokus mereka cuma satu, yaitu bagaimana menyusun kalimat agar lawan bicara mati kutu. Slogan mereka kira-kira begini: "Berikan saya argumen paling lemah, dan saya akan membuatnya terdengar paling kuat." Terdengar familiar dengan gaya politisi zaman sekarang?
Tentu saja, gaya jualan kaum Sofis ini membuat beberapa filsuf sungguhan naik pitam. Salah satunya adalah Socrates. Menurut Socrates, keahlian kaum Sofis ini ibarat memberi makan orang dengan permen. Memang manis di mulut, tapi lama-lama bikin gigi busuk dan tubuh penyakitan. Berdebat tanpa kompas moral itu sangat berbahaya bagi peradaban. Pertanyaannya, kalau hal ini begitu manipulatif dan merusak, mengapa dari zaman Yunani Kuno sampai era media sosial sekarang, kita masih saja tertipu? Mengapa kita lebih suka mendengarkan omong kosong yang dibungkus rapi daripada kebenaran yang telanjang? Jawaban dari pertanyaan ini tidak ada di buku sejarah, teman-teman. Jawabannya ada di dalam kepala kita sendiri. Ada sebuah kelemahan bawaan di dalam arsitektur otak manusia yang membuat kita selalu rentan terhadap seni tipu-tipu ini.
Di sinilah sains masuk untuk menjelaskan semuanya. Dalam psikologi dan neurosains, kita mengenal dua sistem berpikir. Sistem pertama itu emosional, impulsif, dan bereaksi cepat. Sistem kedua itu logis, analitis, dan butuh banyak energi untuk diaktifkan. Nah, yang dilakukan oleh para praktisi Sofisme—begitu kita menyebut seni berdebat tanpa moral ini—adalah menyerang dan membajak sistem pertama kita. Mereka menggunakan teknik psikologis yang disebut affect heuristic. Mereka melempar metafora yang menyentuh emosi kita. Mereka membakar amigdala kita, yaitu pusat rasa takut, marah, dan ancaman di otak. Saat amigdala menyala, bagian otak prefrontal cortex yang bertugas untuk berpikir logis dan mengevaluasi fakta otomatis meredup. Kita jadi tidak peduli lagi pada data atau bukti empiris. Otak kita secara otomatis akan memilih argumen yang membuat kita merasa menang dan aman. Inilah bahaya terbesar dari retorika tanpa moralitas. Ia mengubah ruang diskusi yang seharusnya menjadi tempat pertukaran ide, menjadi sekadar panggung ilusi mental. Sang pembicara terlihat cerdas, penonton merasa puas, tapi tidak ada satupun kebenaran yang ditemukan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri? Mengubah cara dunia berkomunikasi mungkin tugas yang mustahil. Tapi kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Mari kita latih otak kita untuk berhenti sejenak saat mendengar argumen yang terdengar terlalu sempurna atau terlalu memancing emosi. Ambil napas panjang, beri waktu agar prefrontal cortex kita kembali menyala. Bertanyalah pada diri sendiri: apakah orang ini sedang mengajak saya mencari kebenaran, atau dia cuma ingin terlihat menang? Terkadang, mengakui ketidaktahuan jauh lebih terhormat daripada menggunakan kata-kata indah untuk menutupi sebuah kebohongan. Ingatlah teman-teman, tujuan utama dari sebuah dialog bukanlah untuk menaklukkan lawan bicara. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan kita tidak saling membohongi satu sama lain. Pada akhirnya, memenangkan perdebatan dengan cara memanipulasi kebenaran adalah kekalahan yang paling menyedihkan bagi akal sehat kita.